Laman

Bila Anda penggemar CERPEN/FIKSI, selamat menikmati blog ini....

Bila yang Anda cari adalah KISAH:
fragmen dan penggalan kisah hidup--dari berbagai sumber,
sekedar agar kita tak lupa bersyukur
dan lebih mencintai hidup--
bahkan menemukan keindahannya, di balik duka, luka dan musibah sekalipun...

silakan klik DI SINI atau http://cerpen-kisah.blogspot.com
Film-film yang layak diintip lebih jauh maknanya, bisa ditilik di sini

Rabu, 20 Juni 2012

Pantai (part II)

Mini Story Series

Di pantai, cinta monyet pertama

Saat itu, sejujurnya, aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan ketika teman-temanku  mulai saling menggoda di antara lawan jenis, dan di pesta ulang tahun ala ABG diselipkan disco dan dansa, beberapa teman telah berani saling peluk pinggang dan bahu mesra. Aku yang membuang muka jengah, tanpa sadar menyilangkan kedua lengan di depan dada. Dan segera aku teringat, itu hari pertama aku mengenakan bra (hush, ini bukan pornografi ya, ndak boleh mikir yang nggak2). Rasanya.......maluuuuuu......sungguh! Padahal, siapalah yang tahu apa yang kupakai di balik blus warna hitamku? Ah!


Saat itu, sebenarnya, aku sedang menyimpan debar-debar. Melirik diam-diam, mencari sesosok cowok berwajah oval, yang di setiap pagi saat sekolah, aroma sabun mandinya masih tersisa segar, menyapa hidungku manakala ia melintas dan tersenyum manis padaku. Duh!


Musik berdentam dan lembut mengalun bergantian memainkan rasa, namun sedikitpun imajinasiku tak tergoyah. Para gadis bergaun mekar yang sedang kasmaran melamunkan cowok idaman mengundang mereka melantai, sementara aku mencipta debur ombak di pantaiku sendiri. Saat musik disko berdebum, ombak pantaiku pecah gemuruh. Saat irama dansa membirukan kalbu, pecahan ombak mampir di jemariku bak sentuhan jemari pangeran pujaan hatiku. Ya ya ya, aku tahu, memang terlalu aku! Ya, aku dan pantaiku!


Kupecah tabunganku. Kubeli selembar besar kain putih. Kubentang di dinding kamarku, dan segera kulukis pantai cintaku! Putih pasir, hitam camar, hijau kuning pohon kelapa, putih biru langit berawan, gradasi biru laut dan pecahan ombak. Warna dan gemuruh kasmaranku menuntun kuas pencipta pantaiku. 


Jadi sudah.


Setiap malam, jelang tidurku, pantai tak pernah senja. Pantai tak surut ataupun pasang. Pantaiku selalu cerah dan sempurna. dengan irama gelombang dan ombak yang pas dengan gelora cinta yang kurasakan. Dan setelah puas memanjakan fantasi di pantai visual, aku terlelap dalam kepuasan yang tak terlukiskan dalam kata, seakan aku telah dibelai, dipeluk dan disayang. Padahal, jangankan membayangkan berbagi peluk dan ciuman dengan si dia......membayangkan bersentuhan tanganpun, tidak!!!
Dia......adalah ombak, pasir, camar, awan, bayu, mentari, ....semuanya yang terlukis di pantai itu! Dia...adalah pantai itu! Dia...Pantaiku!




pantai AL.88

Senin, 27 Februari 2012

PANTAI (part 1)


Mini Story Series

Sejak kecil sangat, aku sudah dikenalkan samudera oleh Bundaku. Mungkin karena menurut astrologi, hidupku tergantung pada air. Atau supaya aku menjalani hidupku, mengalir bak air—namun tak terbawa arus karena telah terbiasa bercengkerama dengan gelombang…

Maka tak heran, pantai menjadi rumah keduaku, my home sweet home…bahkan saat pantai hanyalah sebuah imajinasi. Dan dalam situasi kritis, justru pantai adalah rumah pertamaku….sanctuary ku. Sakit parah tak kunjung sembuh kualami saat kunjungan pertamaku ke pantai, namun, jiwaku banyak kali terselamatkan oleh pantai pula. Ironis, memang. Tapi aku lebih suka menganggapnya sebagai amazing.

Yah, amazing…

Seiring aku bertumbuh, kata amazing itu adalah pilihan yang terbaik. Ya, amazing. Pantai mengajariku ironi. Ironi  memang warna kehidupan. Pantai mengajariku tentang kehidupan.

Di Pantai…Aku bergembira, tapi lalu jatuh sakit tak sembuh-sembuh juga
Karena pantai…Aku menanggung perih dan malu berkepanjangan, tapi perlahan pantai juga jalan kesembuhannya

Di Pantai….Aku menikmati kemerdekaan, hingga terbelit rindu menyesakkan nafas
Karena Pantai….Aku menggelepar dahaga, namun terhiburkan kesejukan—
Sejuk yang dingin segar namun asin perih di tenggorokan bila berlebihan,
ah, lagi-lagi ironi yang disandangnya…

Di Pantai….Aku belajar terbang melintas samudera, lalu terjatuh karena sayapku masih terlalu lemah…
Karena Pantai….Aku “menikmati” luka dan kecewa, hingga duka dan putus asa berevolusi menjadi ribuan harapan seperti  ladang pasirnya yang basah gemerlapan

Di Pantai….Aku bertemu kamu…
Di salah satu sudut home-sweet-home ku ….

Sudut yang gelap tiba-tiba menjadi tujuan pertama terbitnya surya
Sudut yang pengap tiba-tiba berlimpah O2
Sudut yang mengubur segumpal asa tiba-tiba mulai berdetak, bernafas, dan bergerak….
LALU…
Samar meredup
Mengetat sesak
Tersendat langkah..
Ironis…
LALU….

Pantai adalah kehidupanku. Kehidupan adalah ironi yang sempurna. Maka, aku menunggu, mengalir…seperti hakikat pantaiku, airku, namaku. Mengalir…..ironi apa yang menunggu dalam kehidupanku…

Bila mengikut hakikat pantaiku…
Harusnya
Karena Pantai…..
Redup itu menjadi pendar merah surya di Barat yang menuntun pada kejelasan makna, bahwa malam gelap akan diganti pagi cerah
Sesak itu berkontribusi CO2 bagi fotosintesa daun kelapa, menghembuskan kasih persaudaraan sebagai imbalannya

Sendat itu sekedar tali kekang penyelamat, agar aku tak tersandung jatuh bongkahan karang atau ceceran buah kelapa coklat…..sehingga aku kembali berjalan dengan tenang, melintasi pasir hangat , dicumbu sejuk percikan ombak, yang menghibur hatiku dalam senyum tak sadar. Senyum paling jujur dari hati yang terdalam—digerakkan bawah sadar, membias lewat cahaya surya, terpantul oleh air lautan…..untuk memanggilmu datang…..

Selasa, 21 Februari 2012

Cerpen Kisah- Tinta Emas dan Merah


MINI STORY SERIES

Malam itu aku menemukannya. Ah, aku yakin matanya tersenyum. Antara senyum nakal dan kebaikan. Ah, aku sok pintar benar membuat analisa demikian. Tapi aku tahu, dia bermental petualang—perpaduan jiwa liar namun berdekorasi kelembutan dan penuh pengertian.
Rasa percayaku menyerah mutlak dalam telikung logika dan empatinya. Ah, indahnya bahkan melebihi rasa jatuh cinta—bah, bahkan rasanya jatuh cinta saja aku tak yakin benar! Sungguh, bagi seonggok jiwa yang selama ini memburu sepi dan sembunyi dalam sanctuary buatan, momen itu sungguh sebuah sejarah yang akan tercatat dengan tinta emas (eh-ehm)…..
Sayang….sungguh, bila tinta emas itu mesti ditumpuk dengan tinta merah…..
Aku termangu dalam sanctuaryku…..pena merah menari-nari minta aku rengkuh.
Aku tetap menimbang-nimbang ragu,
Aku masih tetap berharap……..tinta emasku tak luntur oleh waktu…..
Aku menunggu…
Si tinta merah melenggok menggoda..
Aku membuang muka!

Kamis, 02 April 2009

cerpen-kisah remaja: Reality Show

Cerpen kisah remaja- REALITY SHOW
Maria Agatha

Berta menonton acara “Katakan Cinta” dengan penuh semangat. Di akhir acara, dia mendadak berdebar-debar, saat mencatat nomor telepon yang bisa dihubungi bila berminat untuk menjadi calon pejuang di acara reality show itu!
Oo! Berta semakin tegang membayangkan perjuangannya dan adegan romantisnya terpampang di sana, dengan Boni di depannya, lalu di layar terpampang tulisan “DITERIMA!!”
Oo! Indah sekali. Cool, Guys! Pikirnya.
“Gila, kamu, Ta. Apa nggak malu….gimana kalau ditolak?” sergah Mimi sahabatnya.
“Ih, kamu, nih, pesimis banget. Lagian, apa kamu ngeremehin aku? Apa kamu pikir aku cuma ge-er, kalau si Boni tuh, ada hati sama aku. Iya?!?” sergah Berta balik.
“Bukan gitu, Ta. Cuma…..masak sih, cewek yang nembak cowok.”
“Eh…. Hari gini jangan ngomong soal begituan, Non. Udah nggak jamannya. Lagian, kalau cara kita masih sopan dan kreatif, kenapa enggak? Malah bangga, dong,” kata Berta dengan nada ceramah.
“Tapi kalau ditolak gimana? Aku kan niat jaga perasaan kamu juga. Ditonton orang se-Indonesia, Non….”
“Ya, nggak apalah. Minimal udah sempat acting, kayak adegan romantis bintang sinetron…..hehehe….’” sahut si Berta dengan tawa .
“Ih, aku serius, nih, Ta. Apa kamu nggak malu kalau ditol…” belum selesai kalimat Mimi, Berta sudah memotong,” Kamu, nih emang cewek tradisionil. Pesimis dan kuper. Sudahlah, PD aja, lagi. Perasaanku bilang, si Boni tuh emang ada hati sama aku. Kamu sendiri kan sering dititipi salam ama dia buat aku. Iya kan? Kamu juga yang sering ngingatin aku kalau dia curi-curi pandang padaku? Ayolah, Mi, please…..support aku, dong.”
“Ya, deh. Terserah kamu, aja.” Mimi menyerah.
“Nah,gitu, dong. Lagipula, kalau aku ikutan acara itu, aku mau menunjukkan rasa solidaritasku ama kaum cowok, Mi.”
“Lho, apa hubungannya?”
“Kita bakalan tahu gimana susahnya para cowok saat berencana nembak cewek yang ditaksirnya, belum lagi dengan resiko ditolak. Nah, lho…. Niatku mulia kan,” kata Berta dengan centil.
Mimi Cuma angkat bahu. Percuma, deh, berdebat dengan mahluk Tuhan yang satu ini, pikirnya.
----- 000 -----
Dewi Fortuna berpihak pada Berta. Tak terlalu lama menunggu, kabar dari “Katakan Cinta” muncul.
Walaupun sudah bermodal percaya diri, tak urung, Berta sempat grogi juga, saat mengikuti arahan dari tim kreatif dan sutradara acara. Maklum, baru kali ini Berta berdiri di depan kamera.
Seperti ciri khas Reality Show itu yang penuh trik mengejutkan sang “target”, Boni saat itu memang tidak sadar sedang menjadi incaran sang pejuang Berta dan jadi sasaran bidikan kamera yang tersembunyi.
Tibalah klimaksnya….
Dengan dandanan ala Dewi Cinta nya negeri Yunani, di antara debur ombak dan keangkuhan batu karang tepi Pantai terucapkan puisi cinta Berta yang tertulis di kain putih penutup tubuh rampingnya…..
Boni terbelalak. Pertama, lantaran tubuh seksi Berta (hehe, jujur aja, memang iya begitu). Yang kedua karena….puisi cinta Berta.
Alih-alih menjawab, Boni malah tercebur ke air pantai lantaran shock!!!
“DITOLAK!!!!” tertampang hitam jelas di layar.
Mimi melongo. Tegang dan tidak sampai hati memandang wajah sahabatnya.
Sebenarnya Mimi tidak mau menonton penayangan kali itu. Tapi malahan Berta yang ngotot mau nonton.
“Aku pingin lihat, keren apa tidak acting-ku.” Kata Berta sambil tersenyum. Tak urung Mimi tahu, itu senyum yang kecut. Berta nya saja yang gengsi mengakui itu, setelah semangatnya yang menggebu beberapa waktu itu.
Keesokan harinya, Berta bagaikan bintang baru yang lagi naik daun. Jadi perhatian teman-temannya di sekolah. Ada yang salut sama keberaniannya. Tapi ada juga yang menertawakannya. Terutama para saingannya.
“Sadar, Non, sadar. Ngaca dulu dong sebelum ‘nyamber’ Boni,” celetuk Wina, mahluk sok cantik yang menyebalkan di kelasnya.
Untunglah, Berta cewek yang tahan banting. Satu dua hari memang terasa agak “panas” baginya. Tapi lama-lama cuek saja dia menanggapi segala komentar.
Satu yang tidak bisa dicuekinya. Tentu saja si Boni.
Rentang waktu antara ambil gambar acara “Katakan Cinta” dengan penayangannya memang agak lama. Dan Sejak adegan itu, sampai penayangannya, tepatnya, sejak penolakan Boni itu sampai hari ini, Boni jadi menjaga jarak dengan Berta.
Kasihan banget si Berta. Masak iya sampai segitunya amat ya reaksi si Boni?
“Aku nggak nyangka, deh, Mi, masak iya Boni jadi benci ama aku, gara-gara aku nembak dia?” tanya Berta pada sobat kentalnya itu.
“Yaahhh…. Aku kan udah ngingatin kamu, Ta.”
“Ngingatin apa?”
“Lha itu, kalau kamu ditolak…”
“Ini bukan soal ditolaknya, Mi. Aku nggak malu-malu banget tuh, saat ditolak. Udah resiko, tahu. Ya, kecewa, sih. Tapi lebih kecewa lagi, kok reaksi Boni segitu dinginnya. Malah sampai sekarang…..”
Mereka terdiam. Mimi jadi tidak tega untuk menyudutkan Berta. Bagaimana pun dia salut akan keberanian Berta, walau jadinya malah runyam.
“Eh, Mi. Nurut kamu, nih, jujur ya, Boni itu apa memang suka sama aku?”
Mimi tidak langsung menjawab. Mikir dulu. Bingung.
“Gimana, ya, Ta. Kemarin-kemarin, sih, aku yakin gitu. Tapi setelah kejadian di Show Reality itu, aku jadi bingung juga. Apalagi, abis kejadian itu, dia kan belum pernah ngomong apa-apa sama kamu atau aku. Aku ya jadi ragu juga…..”
“Iya, nih, masak aku yang ke-geer-an banget ya, Mi?”
“Ah, kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga ngerasa gitu, Ta. Beralasan banget. Dia suka memperhatikan kamu, titip salam, coba-coba ngedeketin kamu, kalau kamu deket cowok lain, kulihat dia blingsatan cemburu. Suer, deh, aku nggak bohong. Ngapain bohong ama sahabat sendiri, Ta….”
Dan dua sahabat itu termenung. Sama bingungnya.
“Nggak enak juga ya, Mi, jadi gini…..” sesal Berta.
----- 000 -----
Bukan Berta namanya, bila larut dalam penyesalan dan kesedihan. Masih banyak temannya. Cowok pun tak kurang di dekatnya. Maka, dilupakannya kejadian “sial” itu.
Setiap bertemu Boni, tetap coba disapanya. Bila dicuekin, dia pun ikutan cuek saja. Enteng sajalah…..sampai Mimilah yang bingung sendiri, kok ada mahluk “setabah” Berta ini. Kagum dia pada sobatnya.
Sampai suatu ketika…..
Boni menelponnya, mengajaknya bertemu di sebuah kafe.
“Berta, maafin aku, ya. Aku kok memperlakukan kamu seperti itu. Mestinya aku bersikap lebih sportif ya.”
“Aku memang kecewa….. kenapa kamu jadi seperti memusuhi aku. Tapi aku juga minta maaf, ‘kali aku terlalu ge-er. Tapi nggak apa-apa, kan daripada minder,” katanya.
Boni tersenyum. Rasa sesalnya makin besar telah bersikap seperti selama ini. Nyatanya, gadis itu seperti tak menyimpan dendam dan tetap gembira setelah penolakannya disambung sikap negatifnya. Ah, Berta memang gadis yang menarik dan menyenangkan. Sayangnya……
“Berta, sebenarnya, aku mengajakmu ke sini bukan hanya hendak minta maaf. Tapi juga hendak menyatakan rasa kagum ku pada keberanian dan kreativitasmu. Mungkin itulah perbedaan kita. Mungkin itulah yang menyebabkan semua sikapku itu.”
“Maksudmu?”
“Jujur saja, Ta. Aku sebenarnya minder sama kamu. Kamu cewek yang berani mengungkapkan perasaan kamu. Tidak seperti aku yang ragu-ragu dan tidak percaya diri. Itulah sebabnya, aku tidak bisa menerima cintamu, walaupun sebenarnya aku juga ada perasaan istimewa padamu.”
Tentu saja Berta terkejut. Setelah penolakan itu, setelah sikap Boni yang menjaga jarak, bagaimana mungkin kata-kata ini yang terucap?
“Aku tahu, kamu pasti telah aku buat bingung….. Berta, aku suka sama kamu. Mungkin perasaanmu telah berubah karena sikapku selama ini. Tapi, kuharap sekali lagi kamu mau memaafkan aku dan bisa mengerti alasanku…..”
Sejenak Boni mengambil nafas panjang, sebelumnya melanjutkan,
“Aku ini tidak mudah berekspresi di depan umum, makanya aku nggak bisa menerimamu waktu itu. Sejak itu, aku harus berjuang membuat diriku menjadi laki-laki yang lebih berani dan percaya diri. Aku malu, sungguh malu, dengan keberanianmu, Berta. Maka, senja ini, aku meyakinkan diriku, bahwa aku telah mampu untuk bersikap sama seperti kamu, berani, seperti kamu. Dan kini adalah giliranku untuk bertanya, maukah engkau menjadi kekasihku?”
Berta terperangah. Sebelum bisa berucap, dari panggung mungil di café itu muncul seorang penyanyi yang melantunkan “I Love You” nya Sophie, tembang lawas kesukaannya. Disusul puisi cinta………….Puisi yang sama, dengan yang dipakainya saat ia beraksi di “Katakan Cinta” beberapa waktu lalu!!!
Saat itulah mata Berta menangkap kamera yang tersembunyi di balik tumbuhan di café itu!
Jantung Berta berdebar. Jadilah dia tahu, bagaimana perasaan Boni yang agak pemalu ini pada saat Berta menembaknya dulu………
Saat mike disorongkan padanya…….
“Aku masih tetap cinta kamu, Boni.”
Legalah hati Boni. Begitu juga Berta. Tak ada dendam atau marah. Yang ada cuma saling mengerti…..dan cinta.
Maka, di layar kaca, terpampang “DITERIMA”.
Terbayang kan, bagaimana dua sejoli ini akan segera beken di seantero nusantara, sementara Wina, si kemayu akan gigit jari. Ha ha!!

Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com

Cerpen-kisah Di Mana Jalan Pulang

Cerpen-kisah manusia dewasa DI MANA JALAN “PULANG”?

(OLEH: Maria Agatha)



Aku adalah produk wanita masa kini. Aku yakin begitu. Aku terlalu asyik mengumpulkan berbagai
prestasi. Begitu asyiknya, sehingga segala aktivitas orang muda dan menanjakkan karier jadi prioritas hari-
hariku. Tentu saja karena aku masih sangat muda dan lajang.

Klise? Kurasa tidak. Nyatanya, itulah “nafsu” wanita muda jaman sekarang.
Bila ada kaum Adam yang mencibir karenanya, ya wajar saja, karena mereka merasa “tersaingi”, dan
dipersempit “lahannya”. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang “keder”, alias gemetaran bila berdekatan dengan
wanita semacamku. Eh-hem. Ini fakta.
Bagaimanapun, aku tidak pernah memasang jurang pemisah dengan kaum Adam, apalagi
membunyikan genderang persaingan dengan mereka.
Alhasil, tak sedikit kawan priaku. Tapi, terlalu sedikit yang “rela” mencoba-coba menjadi kekasihku.
Dari yang terlalu sedikit itu, SIALnya, tak satu pun yang sukses menjalani masa percobaan itu. Kesimpulannya, aku masih lajang, jang, jang.
Kukatakan tadi, aku ini produk wanita masa kini. Sebetulnya tak jadi soal benar bila aku masih
melajang, walau usia sudah kepala tiga. Itu menurut pendapatku. Tapi tidak di mata keluarga besarku. Apa boleh buat, karena aku masih hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Jadilah, aku punya PR sulit dan mesti mematok target untuk get married .
Sekarang, bayangkanlah. Usia kepala tiga, ekonomi cukup mapan, karier menanjak. Sasaran calon
suami?
Mahasiswa? Gila. Daun muda. Tak berpengalaman. Karier nol. Ekonomi tidak jelas (kecuali bila
anak orang kaya raya dan siap dapat warisan, ha..ha..ha)
Rekan kerja sebaya? Wah, maaf, kalah pamor. Belum-belum sudah grogi dengan posisi dan gajiku.
Percayalah, aku tidak pernah berhasil berkencan lama dengan pria-pria tak percaya diri macam begitu.
Lagi-lagi, jarena budaya Indonesia, jelas pria yang lebih tua darikulah yang bakal diterima oleh
keluarga dan masyarakatku. Mapan karier dan ekonominya, sudah pasti jadi tuntutannya. Dan tak usah
kaget, siapa pun tahu, pria-pria kelompok ini sebagian besar pastilah telah beristri dan bahkan telah
beranak(-pinak)! Alamak!
-------- 000 --------
Di sebuah hotel berbintang di wilayah Batu, Malang, selama satu minggu aku memberi pelatihan kepemimpinan dan pengembangan SDM beberapa perusahaan terkemuka di kota Malang dan sekitarnya.
“ Selamat malam, Bu,” sebuah suara menyapaku, saat aku duduk beristirahat di lobi hotel.
“ Ohh…” tentu saja aku kaget.
“ Boleh saya duduk di sini?” tanyanya sambil menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahku.
“Oh, silakan, Pak,” jawabku sambil memandangnya. Seketika aku ingat, dia adalah pria peserta
pelatihan yang di sesi yang baru saja berakhir tadi bergabung dalam kelompokku.
“Ehhmm…. Pak Christo?” tanyaku sekedar berbasa-basi.
“Ah, ya…Ibu masih ingat saya,” katanya dengan nada senang yang tidak dia sembunyikan.
Hmmm, pikirku, bagaimana aku tidak ingat namanya, karena dia termasuk peserta pelatihan yang
sangat bersemangat. Diam-diam aku tersenyum sendiri mengingat beberapa adegan lucu yang dilakukannya
selama pelatihan tadi.
Eh, dia tersenyum juga. Rupanya dia mengira aku tersenyum padanya. Ah, biarlah, hitung-hitung
beramah tamah dengan peserta, biar tidak dikira sombong, mentang-mentang aku fasilitator.
“ Bagus sekali materi Ibu tadi,” katanya.
Entahlah, tiba-tiba aku jengah juga dipanggil dengan sebutan ibu olehnya yang, menurut
perkiraanku, berusia sekitar 46 tahun.
“Terima kasih. Syukurlah bila Bapak berkenan.”
“Wah, bukan cuma saya, Bu. Peserta lain tadi juga mengatakan kesan yang sama dengan saya. Saya
kagum lho. Ibu masih muda, tapi bisa membimbing kami yang lebih tua ini.”
“ Ah, Bapak berlebihan. Justru saya yang kagum pada Bapak dan ibu peserta pelatihan yang sudah
lebih tua dari saya. Sudah berpengalaman, kok masih mau-maunya ikut pelatihan macam ini.”
“Lho, ini ‘kan penyegaran, Bu. Lagipula, apa saya sudah terlihat terlalu tua?” katanya dengan mimik
jenaka.
Mau tak mau aku tersenyum. Tidak mengiyakan atau berkata tidak. Ya, siapa yang suka disebut tua?
Apalagi di depan lawan jenis. Pasti maunya awet muda terus, bukan?
Itu hari pertama.
Malam kedua, tentu saja setelah beraneka kegiatan yang membuat peserta semakin “kompak”
dengan para fasilitator, Pak Christo sudah memanggilku dengan sebutan “Jeng”.
“ Jeng Tiara, belum mengantuk? Kok masih duduk di lobi.”
Aku tersenyum saja. Dan kami terlibat obrolan yang akrab, lebih akrab dari malam kemarin.
Malam keempat, jangan tertawa bila kuberitahu, di lobi yang sama, dia sudah memanggilku dengan
sebutan “Dik Tiara”.
Apakah aku bisa menolak? Tentu tidak.
Tunggu! Apakah dia mulai tertarik padaku? Aku tidak boleh ge-er. Dia memang sangat perhatian.
Dia selalu mencari kesempatan untuk mendekatiku. Dia selalu menemaniku tiap malam di lobi hotel. Dia
bercerita tentang kehidupan pribadinya. Termasuk kalau dia sudah beristri, dan…..istrinya sedang
“ngambek” pulang ke rumah orang tuanya dan mengancam minta cerai, lantaran merasa ditelantarkan
karena sang suami terlalu sibuk dengan kerjanya di kantor. Hmmm…. kesempatan emas?
Tunggu dulu! Apakah aku tertarik padanya? Dia memang simpatik, walaupun tidak terlalu tampan.
Tampak matang dan penuh semangat hidup.
Ah, tunggulah, tidak semudah itu bagiku, walaupun, jujur saja, pada hari kelima kami sempat keluar
berdua sekedar mencari apel Malang. Lalu pada malam keenam, dia mengajakku ke tempat karaoke di hotel
itu. Dan tanpa malu-malu kami bernyanyi dan bergurau sepuas-puasnya.
Tiba malam hari ketujuh. Malam terakhir. Para peserta telah berpencar dengan pasangan atau
kelompok masing-masing berburu buah tangan. Lobi hotel terasa lebih lengang dibanding hari-hari
sebelumnya.
Why Goodbye mengalun. Kebetulan? Entahlah. Sang penyanyi lagu itu sangatlah cantik dan
berbusana seksi. Tapi Pak Christo malah memandangku, dan mengulurkan tangan padaku.
Malam itu, kami berdansa. Dan….. aku memanggilnya “MAS Christo”, bukan lagi “PAK”.
Tak usahlah bertanya bagaimana itu terjadi. Setiap manusia yang bernaluri pastilah tahu jawabnya.
Aku bujangan yang berburu pasangan, dia suami yang sedang kesepian….. Pas?
Sudah kubilang tadi, tunggu dulu! Terlalu cepat bila kauputuskan ceritaku dengan kesimpulan klise “perawan tua” menjadi simpanan pria beristri!
------- ooo -------
Tut tut turututut. SMS di HP ku.
>Halo, Dik. Kita ketemu, yuk. Di café MESRA
>Kujemput jam 6
Katanya, sudah sebulan istrinya tidak mau pulang. Sehingga, tak ada masalah kapan pun ia keluar
denganku. Tak ada istri, tak punya anak, tak perlu ijin dan sungkan. Tetangga? Ah, lingkungan rumahnya
yang lumayan mewah dan bertembok tinggi, siapakah yang peduli.
>Dik, tolong aku ya? Aku sedang kerja di rumah ini. Sedang di depan komputer. Membuat program pengembangan SDM.
>Kujemput jam tujuh ya?
Seperti janjinya, jam tujuh dia menjemputku.
“Lho, katanya ke rumah Mas?” tanyaku begitu kulihat dia menempuh jalan yang berbeda dengan
arah rumahnya.
“Kita makan dulu saja. Aku lapar dan mau refreshing sebentar. Tadi sudah kerja berat, Dik”
Sesudah makan, dia mengajakku ke tempat karaoke. Kebetulan, kami berdua hobi menyanyi untuk melampiaskan stress.
Dia memesan ruang. Dipilihnya yang privacy dan lux. Nyaman memang.
Begitu masuk ruang, dia langsung memilih lagu-lagu lembut. Lalu meluruskan tubuhnya di sofa
dengan santai.
Aku meraih mic siap bernyanyi. Tapi dia malah meraih tanganku. Ditariknya aku berhadapan muka
dengannya. Kurasa kami sangat dekat. Terlalu dekat, malahan. Sehingga tak lagi berjarak, dan aku yakin,
malam itu parfum di bajunya dan parfum di bajuku telah berbaur menebarkan paduan aroma baru yang
bercita rasa cinta dan sensasi sensual…….
Esok paginya,
>Sayang, aku rindu kamu. Tadi malam, indah sekali. Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi….
Tepat dua bulan sejak perkenalan kami. Dan kini aku dan dia berbaring bersisian dengan nafas
pendek-pendek. ….…… Aku terkesiap!!!
Esok siangnya,
>Kuharap, kamu tidak menyesal dengan yang baru kita lakukan semalam, Sayang, sungguh, indah sekali. Aku
mencintaimu.
Kurasakan dadaku berdebar lantaran SMS itu.
-------- 000 --------
Tiga bulan berjalan.
Aku sudah melangkah jauh, terlalu jauh. Tapi biarlah, aku sudah siap. Aku tak bisa melepaskan diri darinya. Toh, sebentar lagi dia akan menceraikan istrinya.
>Aku mencintaimu, Dik. Sangat. Aku ingin bersamamu. Tapi…..istriku pulang.
>Tapi kita tidak bisa bertemu…..
Dalam hati aku tersenyum. Untung kami bukan selebriti. Tak penting apakah kami mulai jatuh cinta sebelum atau sesudah dia bercerai. Tak ada infotainment yang peduli dan mengutak-utik. Kalau sudah begini, baru mikir, enakan jadi orang “biasa”, daripada jadi orang terkenal.
Tapi, senyum nakalku akan nasib selebriti yang terlibat “love affair” segera terhenti oleh SMS berikutnya….
>Sayang, sungguh aku mencintaimu. Percayalah. Kau benar-benar luar biasa. Maafkan aku….istriku HAMIL.
Kami akan punya anak…..
…!!!!!!...
>Sayang……maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat lain….
Aku termangu. Aneh, air mata setitik pun tak jatuh, tapi hatiku sesak dan…..gelap!!!
------- 000 --------
Di kepalaku terbayang sebuah ranjang tempat aku terbaring beberapa waktu lalu, dengan Mas Christo di sampingku, dengan mimpi indah yang jadi harapanku. Dan di ranjang yang sama, di rumah megah itu, kulihat berbaring, Mila, istrinya…..Hatiku bergolak melihatnya bersisian dengan wanita itu….
Lagi-lagi, tak kurasakan air mata di pipi. Cuma sesak dan….gulita!!!
Akan kucegah mereka dekat…dan aku satu-satunya yang boleh menyentuh Christoku…..
Dan sekarang aku tercekat oleh pemandangan di depanku. Di bibir ranjang itu, saat mereka
semakin dekaaatttt….
Harus! Harus kuhentikan sekarang juga!
Mas Christo, panggilku. Rupanya dia tidak mendengar.
“Mas Christo,” suaraku lebih keras. Masih juga dia tidak menoleh.
“MAS CHRISTO,” teriakku. Tidak mempan juga.
Kuhampiri dia, kutarik tangannya yang hendak menyentuh lengan Mila. Ugh, tak kena. Kudorong
dia menjauh…. Aku menebas angin.
Kudekatkan kepalaku di telinganya hendak mengecupnya mesra. Dia bergidik menjauh dan malah
semakin dekat dengan kepala Mila dan….mereka berciuman.
Aku panik sekali. Berteriak keras-keras dan tanganku berserabutan ke sana kemari menarik
perhatiannya. Tapi dia malah semakin mesra dengan Mila, membelai perut Mila yang menyimpan buah cinta mereka….., sementara aku bercumbu dengan angin.
Aku memalingkan muka dan kulihat aku tergeletak bernoda darah dan orang-orang menangisiku.
Aku bingung sekali.
Di mana aku?
Kukira semua akan berakhir. Kukira aku bisa menyentuh Christo selamanya walau dia hidup
bersama Mila. Kukira aku bisa memaksa Mila menjauh ketakutan Kukira….Kukira….
Ini bukan bumi, ini bukan surga, ini bukan neraka…..lalu di mana?
Aku berseliweran ke sana ke mari mencari semacam ……pintu… Ya, PINTU!…Tapi, ke mana?
Malah kulihat, kursi kerjaku di kantor, jabatanku, telah diisi orang lain. Lalu aku……
Kulihat orang menggali tanah merah di antara doa-doa dan tangisan, sambil memegang Kembar Mayang.
Demi Tuhan, aku……
Di mana jalanku pulang? Oh, maksudku, bukan pulang padaNya!!! Tapi, pulang ke BUMIKU!!!
TOLONG aku…… Heiiii!!!……Bagaimana ini?!?
Seorang wanita masa kini, telah berbuat bodoh terhadap nyawanya, gara-gara memburu jodoh?!?

Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com

Cerpen-kisah manusia Buyung

Cerpen kisah seorang manusia buat pembaca...
cerpen ini pernah dimuat di majalah Chic (2005)

“BUYUNG”
Oleh: Maria Agatha
Kunti terpekur dalam diamnya. Matanya menatap kosong. Menerawang jauh menembus batas jendela berkaca buram. Senja menjelang. Belum gelap benar. Tapi ruangan tempatnya duduk telah bagai penuh kabut hitam. Sekali dua gagak berkaok-kaok melintas menjauh mendekat. Makin kencang berdiri bulu kuduknya.
Keringat dingin membecekkan telapak tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba saja matanya terasa semakin berkabut dan kepalanya berdenyut.
Ditariknya nafas panjang dan dalam berulang-ulang. Dibisikkannya ke hatinya sendiri, dikuatkannya niatnya sendiri, demi kebaikannya sendiri. Ah?!? “Ya Tuhan, tolonglah aku. Kuatkanlah aku”, bisiknya.
Tapi dia jadi malu dan---takut!
“Bagaimana mungkin aku minta perlindungan-Nya, untuk sesuatu yang jelas-jelas tak direstui-Nya? Sama saja seperti maling yang sedang beroperasi, lalu berdoa pada Tuhan agar dia tidak sampai ketahuan dan dihajar massa saat menjalankan niatnya. Lucu sekali, bukan?” nuraninya berbisik.
Dan dia sempat tersenyum sendiri memikirkannya. Senyum kecut, tentu saja.
“Nona Kunti.”
Dia tersentak kembali. Tapi dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu yang memisahkan ruang suram itu dengan sebuah ruang yang membuat hatinya miris.
Di bibir pintu langkahnya terhenti sesaat. Sempat terpikir olehnya untuk membalikkan badan dan melangkah pergi. Tapi….ah, sudah kepalang tanggung, katanya dalam hati. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Ditariknya nafas panjang lagi. Dalam dan lama. Dan dia melangkah kembali. Melewati pintu. Matanya disambut oleh tatapan seorang wanita yang telah berumur. Tajam. Dia langsung tertunduk. Ada rasa malu menyerangnya. Dan secara otomatis disentuhnya perutnya, bertepatan dengan saat pandangan wanita itu beralih ke tubuhnya.
“Tenang, ya. Jangan tegang. Tarik nafas yang dalam,” suara wanita itu sedikit serak. Terdengar dingin, tanpa perasaan. Kunti sempat berpikir, berapa puluh, atau ratus wanita yang telah disentuh perutnya oleh wanita ini?
Wanita itu mulai menyentuh permukaan perut Kunti, dan berhenti di pusarnya. Kembali jantung Kunti serasa berhenti berdetak, ototnya menegang, darahnya tak mengalir lagi, kepalanya berdenyut berat…..
Dipejamkannya matanya, dan tanpa sadar sepenuhnya bibirnya menghembuskan nama Tuhan….Tuhan…Tuhan…..Allah Akbar. Allah Akbar……
Mata Kunti menjadi basah. Nafasnya terengah---terlambat, pasti ini sudah terlambat. Ya Allah….
------- 000 --------
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja, ruang disekitarnya terasa lebih sempit dan pengap.
Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Dengingan pilu menyayat pendengarannya. Didekatkannya telinga untuk mencari tahu suara itu. Tapi malah tubuhnya bergetar, seakan ada yang menabuh genderang di dekatnya. Sesaat nafasnya seakan terhenti. Hingga bibirnya harus dibuka untuk mengundang udara ke rongga dadanya yang sangat kecil itu.
Hatinya menjadi resah. Tidak biasanya hawa terasa begini. Apakah musim sudah berganti. Tidak ada lagi belaian yang nikmat meninabobokannya ke tidur yang nikmat, diselingi kidung lembut merdu yang mengelus-elus telinga mungilnya.
Ah, ya, dia teringat sesuatu. Kenapa tidak bertanya kepada ibunya saja. Biasanya, sang bunda suka sekali memberi jawabannya atas pertanyaannya.
“ Bunda….,” Dipanggilnya nama sang bunda. Tidak ada reaksi.
Disentuhkannya tangannya. Tak ada balasan.
Dihentakkannya kaki kuat-kuat untuk menarik perhatian bundanya. Sepi saja. Malah rasa dingin makin kuat menyelinap.
Hatinya mulai terasa tidak enak. Tiba-tiba saja dia tersadar, dia telah terkurung sendirian di pojok yang gelap dan dingin. Sendirian, sungguh.
Mungkin bundanya sedang tertidur lelap kelelahan? Tapi selama ini lelelah apapun bundanya, ia tak pernah begitu tak peduli……
Rasa dingin semakin kuat menembus pori-pori tubuhnya. Apakah ada celah terbuka yang mengundang angin menerobos ke dalam?
Hei, lihat, ada cahaya kecil di kejauhan. Katanya pada diri sendiri.
Sebelum dia tahu cahaya apakah yang menyusup itu, lagi-lagi gelap membungkusnya, karena sesuatu menerobos dari celah asal cahaya itu tampak.
“Bunda, apakah itu?” pertanyaan meluncur dari bibirnya.
Bukannya jawaban yang didapat, malah sesuatu itu mendekati dan mulai menyentuhnya.
Dingin.
“ Aduh,” Benda itu mulai menyakitinya. “Bunda, apakah ini?”
Belum disadarinya apa yang terjadi, ada lagi sesuatu yang lain menekannya dari atas. Seperti dijepit diantara dinding. Sesak dadanya dan sulit bernafas.
“Bun…bun..ddd…dddaaa…. Aku kenapa?”
Tekanan di atasnya semakin keras. Kini melanda sekujur tubuhnya. Seperti dihantam.
Kakinya menyepak ke sana-kemari berusaha membebaskan diri. Tetapi benda asing dingin tadi malah membuatnya makin kesakitan….. dan Oh, bunda, kenapa tak bisa kugerakkan kaki kiriku?
Saat matanya melihat ke bawah….Oh, bunda, kakiku tinggal yang kanan. Kaki kirinya terlepas dan tercabik-cabik….
“Bunnndddaa…..”
Bundanya pasti tak mendengar. Rasa sakitnya makin menjadi-jadi. Pinggulnya kini yang terasa perih. Tak ada rasa lagi di tubuh bawahnya…..
Terus ke atas….
Pusarnya tak lagi berbentuk…..
Warna merah makin deras muncrat di mukanya. Matanya perih tak dapat melihat. Dia cuma bisa merasa, sabitan-sabitan yang makin dekat ke jantungnya.
Nafasnya mulai satu satu.
Kepalanya menjadi begitu berat dan matanya mulai enggan terbuka….
“Bunda….” Bibir mungilnya berbisik. Lemah. Pelan.
Tiba-tiba sesuatu yang kuat meraih dan menariknya…..
“Ah, apakah ini tangan Bunda yang menyelamatkanku dari rasa sakit ini?”
Yah! Cahaya terang. Udara! Udara!
“Tapi…Tapi, kenapa aku masih merasa sesak……?”
Segumpal warna merah menerpanya
Sebelum matanya tertutup oleh gumpalan itu, samar terlihat olehnya mata yang tajam di antara kulit yang berkerut-kerut…..
Di antara rasa takut dan sakit, dia panggil bunda sekali lagi.
“Bunda.” Sayang, terlalu lemah dia. Pasti Bundanya tak mendengar bisikannya itu. Bundanya pergi…atau tertidur lelap?
Karena selanjutnya…… dadanya pun terkoyak…dan berhentilah detak jantungnya.
Satu detik gerakan. Menggelepar.
Mata Kunti menangkap gerakan itu.
Selesai sudah….
-------- 000 -------
“ Ya, selesai sudah,” barulah wanita bermata tajam dengan kulit mulai berkerut itu buka suara.
Kunti merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi, ada yang paling sakit. Hatinya.
Rasa sesal menderanya.
Satu detik gerakan yang tertangkap matanya tadi……… apakah itu teguran kekecewaan Gusti Allah?
Rasa sakit luar biasa yang dirasanya tadi, seakan hilang begitu saja, terkalahkan oleh bayangan rasa sakit yang baru mendera makhluk mungil yang kini telah tercabik tak berbentuk dalam gumpalan merah tua.
“Bunda….”
Kunti menoleh ke sana kemari. Naluri itu terasa begitu saja. Dan matanya tertuju ke tempat gumpalan tadi diletakkan.
Hatinya berdesir. Miris dan….takut.
“Bunda….”
Kunti gemetar.
“Tidaakkk….tiddddaakkk…..”
“Nona Kunti, sudah selesai,” suara seorang wanita muda.
“Tttiiidddaakkkk…..”
--00000--
“Sudah selesai periksanya? Yuk, pulang,” sebuah suara dengan ringan menyapanya. Kris.
“Kau bisa istirahat di vilaku dulu, “katanya lagi. Kunti cuma termangu.
“Kamu kenapa, Kunti?” Kunti masih tidak menjawab.
“Kamu barusan pingsan. Nggak enak badan, ya? Kita pulang saja, istirahat di vilaku. Minggu depan kita mesti kembali ke sini dan……..bereslah semuanya. Kamu akan sehat kembali, dan……..tentu saja tak akan ada masalah lagi. Ini rahasia kita berdua,” kata Kris.
Kunti memejamkan matanya. Ya Allaaaahhh…… sebersit cahaya melintas, lalu……..
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja, ruang disekitarnya terasa lebih sempit dan pengap. Anehnya, bukan hawa panas yang dirasanya, melainkan celekitan dingin yang membuatnya merinding.
Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Dengingan pilu menyayat pendengarannya……….
Kunti cepat-cepat membuka matanya. Tubuhnya bergetar, keringat membasahi kening dan telapaknya.
“Kunti! Kunti!” Kris cemas.
Ampun Gusti, ampun Gusti….ampun…..Allah Akbar…. Batin Kunti menjerit. Hamba belum terlambat, bukan?
“Ayo, kita cepat pulang supaya kamu bisa istirahat. Penderitaan ini akan segera berakhir. Minggu depan. Atau kamu mau lebih cepat? Lusa? Atau besok? Atau sekarang? Mungkin semakin cepat semakin baik, agar kamu tidak seperti ini, sayang? Agar kamu tidak perlu bersembunyi lama-lama?” lagi-lagi suara Kris. Nada yang cemas, merayu, membujuk, jadi satu. Suara………..setan!
Kunti menatap tajam ke biji mata Kris.
Tiba-tiba, tangan Kunti ingin mencabik-cabik wajah yang baru berbicara itu. Begitu enak dia bicara begitu….. Dia, ayah sang mahluk mungil. Atau lebih tepatnya….laki-laki yang seharusnya MAU mengaku sebagai ayah si jabang bayi. Darah dagingnya.
Kepalanya dipenuhi bayangan wajah mungil yang menangis dan marah padanya. Telinganya dipenuhi suara jerit kesakitan dan panggilan “Bunda, bunda, bunda….”
Tubuh Kunti masih bergetar.
“Kita pulang, Kris, ke vilamu, sampai bayi kita lahir,” akhirnya suara Kunti keluar juga.
“Apa?” Kris nyaris melepaskan tubuh Kunti yang ada dalam bimbingannya. Shocked sekali dia.
“Iya, sayang. Kalau boleh, aku tinggal di vilamu untuk membesarkan anak kita, sampai kita menikah resmi bahkan orang tua kita menerima bayi kita. Kita tidak perlu sembunyi lagi. Aku siap, sayang,” kata Kunti masih dengan suara lemah, tapi yakin.
“Tapi…..tapi…..tidak mungkin Kunti. Kita belum siap. Kita tidak bisa melakukannya.”
“Aku siap, Kris. Kau pun akan siap, seandainya kamu sudah bertemu dengan si buyung kita ……” kata Kunti sambil melempar senyum.
“Aaa…appp..appp…apa, maksudmu? Kau baik-baik saja, kan, Kunti?”
“Kau percaya, sayang? Aku baru berkelana ke masa depan. Percayalah, kita akan lebih bahagia bila menantikan kelahiran si buyung kita. Dia pun sudah tak sabar untuk menghirup udara bumi ini. Dia membutuhkan kita. Ingin dicintai oleh kita.”
“Ah, kamu mengigau, Kunti. Kau baru pingsan. Sudahlah, kita segera pulang. Lusa kita kembali ke mari, agar segalanya cepat selesai, dan kita tak memiliki masalah lagi. Kita tetap bercinta, tanpa beban. Ok?”
Tubuh Kunti kembali menegang. Matanya membulat.
“Kkkaauu…..Kau, setan, Kris! Kejam. Kejaaammm!!!”
“Kunti!!!”
---oooo----
Gelap sesaat. Secercah cahaya membias.
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Cuma sesaat. Selanjutnya, belaian lembut merasuk ke pori-porinya, dan suara sang bunda yang selalu dirindukannya terdengar.
“Jangan kuatir, sayang. Bunda akan menjagamu, dan menantikan lahirmu. Tidur yang nyenyak ya, malam ini…..”
Kunti membuka matanya. Allah Akbar.
“Kunti….” Wajah Mamanya tersenyum. Dia hendak bangun. Tapi selang-selang di sekitarnya menghalangi.
“Jangan bangun dulu. Tubuhmu masih lemah. Kamu baru pendarahan dan baru operasi, sayang.”
Kunti tercekat.
“Jangan kuatir. Bayimu selamat. Gagah seperti kakeknya.”
“Mama!”
“Sudahlah, sayang. Mau bagaimana lagi? Dia anakmu, cucu kami………darah daging kita semua………. Biarlah begini, asal engkau telah kembali pada kami.”
“Maafkan Kunti, Ma. Ampuni Kunti.”
“Ya, sudahlah, kau tak ingin melihat bayimu segera?”
Suster datang dan kulihat ukiran wajah Kris terpampang di sana. Aku tidak peduli. Si buyungku adalah milikku. Biarlah Kris berlalu, aku masih punya Mama Papa yang lebih mengerti aku, menerima bayiku---sesuatu yang tak terpikirkan olehku. Mereka yang tulus mencintaiku. Bukan Kris.
“Maafkan Bunda, sayang,” bisikku pada si Buyung yang menggeliat sambil menampakkan sedikit lidahnya. Lucu dan imut. Terlalu berharga untuk dicabik-cabik pisau aborsi.
Aku bergidik dan menangis. Allah Akbar.
TAMAT




Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com