(OLEH: Maria Agatha)
Aku adalah produk wanita masa kini. Aku yakin begitu. Aku terlalu asyik mengumpulkan berbagai
prestasi. Begitu asyiknya, sehingga segala aktivitas orang muda dan menanjakkan karier jadi prioritas hari-
hariku. Tentu saja karena aku masih sangat muda dan lajang.
Klise? Kurasa tidak. Nyatanya, itulah “nafsu” wanita muda jaman sekarang.
Bila ada kaum Adam yang mencibir karenanya, ya wajar saja, karena mereka merasa “tersaingi”, dan
dipersempit “lahannya”. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang “keder”, alias gemetaran bila berdekatan dengan
wanita semacamku. Eh-hem. Ini fakta.
Bagaimanapun, aku tidak pernah memasang jurang pemisah dengan kaum Adam, apalagi
membunyikan genderang persaingan dengan mereka.
Alhasil, tak sedikit kawan priaku. Tapi, terlalu sedikit yang “rela” mencoba-coba menjadi kekasihku.
Dari yang terlalu sedikit itu, SIALnya, tak satu pun yang sukses menjalani masa percobaan itu. Kesimpulannya, aku masih lajang, jang, jang.
Kukatakan tadi, aku ini produk wanita masa kini. Sebetulnya tak jadi soal benar bila aku masih
melajang, walau usia sudah kepala tiga. Itu menurut pendapatku. Tapi tidak di mata keluarga besarku. Apa boleh buat, karena aku masih hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Jadilah, aku punya PR sulit dan mesti mematok target untuk get married .
Sekarang, bayangkanlah. Usia kepala tiga, ekonomi cukup mapan, karier menanjak. Sasaran calon
suami?
Mahasiswa? Gila. Daun muda. Tak berpengalaman. Karier nol. Ekonomi tidak jelas (kecuali bila
anak orang kaya raya dan siap dapat warisan, ha..ha..ha)
Rekan kerja sebaya? Wah, maaf, kalah pamor. Belum-belum sudah grogi dengan posisi dan gajiku.
Percayalah, aku tidak pernah berhasil berkencan lama dengan pria-pria tak percaya diri macam begitu.
Lagi-lagi, jarena budaya Indonesia, jelas pria yang lebih tua darikulah yang bakal diterima oleh
keluarga dan masyarakatku. Mapan karier dan ekonominya, sudah pasti jadi tuntutannya. Dan tak usah
kaget, siapa pun tahu, pria-pria kelompok ini sebagian besar pastilah telah beristri dan bahkan telah
beranak(-pinak)! Alamak!
-------- 000 --------
Di sebuah hotel berbintang di wilayah Batu, Malang, selama satu minggu aku memberi pelatihan kepemimpinan dan pengembangan SDM beberapa perusahaan terkemuka di kota Malang dan sekitarnya.
“ Selamat malam, Bu,” sebuah suara menyapaku, saat aku duduk beristirahat di lobi hotel.
“ Ohh…” tentu saja aku kaget.
“ Boleh saya duduk di sini?” tanyanya sambil menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahku.
“Oh, silakan, Pak,” jawabku sambil memandangnya. Seketika aku ingat, dia adalah pria peserta
pelatihan yang di sesi yang baru saja berakhir tadi bergabung dalam kelompokku.
“Ehhmm…. Pak Christo?” tanyaku sekedar berbasa-basi.
“Ah, ya…Ibu masih ingat saya,” katanya dengan nada senang yang tidak dia sembunyikan.
Hmmm, pikirku, bagaimana aku tidak ingat namanya, karena dia termasuk peserta pelatihan yang
sangat bersemangat. Diam-diam aku tersenyum sendiri mengingat beberapa adegan lucu yang dilakukannya
selama pelatihan tadi.
Eh, dia tersenyum juga. Rupanya dia mengira aku tersenyum padanya. Ah, biarlah, hitung-hitung
beramah tamah dengan peserta, biar tidak dikira sombong, mentang-mentang aku fasilitator.
“ Bagus sekali materi Ibu tadi,” katanya.
Entahlah, tiba-tiba aku jengah juga dipanggil dengan sebutan ibu olehnya yang, menurut
perkiraanku, berusia sekitar 46 tahun.
“Terima kasih. Syukurlah bila Bapak berkenan.”
“Wah, bukan cuma saya, Bu. Peserta lain tadi juga mengatakan kesan yang sama dengan saya. Saya
kagum lho. Ibu masih muda, tapi bisa membimbing kami yang lebih tua ini.”
“ Ah, Bapak berlebihan. Justru saya yang kagum pada Bapak dan ibu peserta pelatihan yang sudah
lebih tua dari saya. Sudah berpengalaman, kok masih mau-maunya ikut pelatihan macam ini.”
“Lho, ini ‘kan penyegaran, Bu. Lagipula, apa saya sudah terlihat terlalu tua?” katanya dengan mimik
jenaka.
Mau tak mau aku tersenyum. Tidak mengiyakan atau berkata tidak. Ya, siapa yang suka disebut tua?
Apalagi di depan lawan jenis. Pasti maunya awet muda terus, bukan?
Itu hari pertama.
Malam kedua, tentu saja setelah beraneka kegiatan yang membuat peserta semakin “kompak”
dengan para fasilitator, Pak Christo sudah memanggilku dengan sebutan “Jeng”.
“ Jeng Tiara, belum mengantuk? Kok masih duduk di lobi.”
Aku tersenyum saja. Dan kami terlibat obrolan yang akrab, lebih akrab dari malam kemarin.
Malam keempat, jangan tertawa bila kuberitahu, di lobi yang sama, dia sudah memanggilku dengan
sebutan “Dik Tiara”.
Apakah aku bisa menolak? Tentu tidak.
Tunggu! Apakah dia mulai tertarik padaku? Aku tidak boleh ge-er. Dia memang sangat perhatian.
Dia selalu mencari kesempatan untuk mendekatiku. Dia selalu menemaniku tiap malam di lobi hotel. Dia
bercerita tentang kehidupan pribadinya. Termasuk kalau dia sudah beristri, dan…..istrinya sedang
“ngambek” pulang ke rumah orang tuanya dan mengancam minta cerai, lantaran merasa ditelantarkan
karena sang suami terlalu sibuk dengan kerjanya di kantor. Hmmm…. kesempatan emas?
Tunggu dulu! Apakah aku tertarik padanya? Dia memang simpatik, walaupun tidak terlalu tampan.
Tampak matang dan penuh semangat hidup.
Ah, tunggulah, tidak semudah itu bagiku, walaupun, jujur saja, pada hari kelima kami sempat keluar
berdua sekedar mencari apel Malang. Lalu pada malam keenam, dia mengajakku ke tempat karaoke di hotel
itu. Dan tanpa malu-malu kami bernyanyi dan bergurau sepuas-puasnya.
Tiba malam hari ketujuh. Malam terakhir. Para peserta telah berpencar dengan pasangan atau
kelompok masing-masing berburu buah tangan. Lobi hotel terasa lebih lengang dibanding hari-hari
sebelumnya.
Why Goodbye mengalun. Kebetulan? Entahlah. Sang penyanyi lagu itu sangatlah cantik dan
berbusana seksi. Tapi Pak Christo malah memandangku, dan mengulurkan tangan padaku.
Malam itu, kami berdansa. Dan….. aku memanggilnya “MAS Christo”, bukan lagi “PAK”.
Tak usahlah bertanya bagaimana itu terjadi. Setiap manusia yang bernaluri pastilah tahu jawabnya.
Aku bujangan yang berburu pasangan, dia suami yang sedang kesepian….. Pas?
Sudah kubilang tadi, tunggu dulu! Terlalu cepat bila kauputuskan ceritaku dengan kesimpulan klise “perawan tua” menjadi simpanan pria beristri!
------- ooo -------
Tut tut turututut. SMS di HP ku.
>Halo, Dik. Kita ketemu, yuk. Di café MESRA
denganku. Tak ada istri, tak punya anak, tak perlu ijin dan sungkan. Tetangga? Ah, lingkungan rumahnya
yang lumayan mewah dan bertembok tinggi, siapakah yang peduli.
>Dik, tolong aku ya? Aku sedang kerja di rumah ini. Sedang di depan komputer. Membuat program pengembangan SDM.
Seperti janjinya, jam tujuh dia menjemputku.
“Lho, katanya ke rumah Mas?” tanyaku begitu kulihat dia menempuh jalan yang berbeda dengan
arah rumahnya.
“Kita makan dulu saja. Aku lapar dan mau refreshing sebentar. Tadi sudah kerja berat, Dik”
Sesudah makan, dia mengajakku ke tempat karaoke. Kebetulan, kami berdua hobi menyanyi untuk melampiaskan stress.
Dia memesan ruang. Dipilihnya yang privacy dan lux. Nyaman memang.
Begitu masuk ruang, dia langsung memilih lagu-lagu lembut. Lalu meluruskan tubuhnya di sofa
dengan santai.
Aku meraih mic siap bernyanyi. Tapi dia malah meraih tanganku. Ditariknya aku berhadapan muka
dengannya. Kurasa kami sangat dekat. Terlalu dekat, malahan. Sehingga tak lagi berjarak, dan aku yakin,
malam itu parfum di bajunya dan parfum di bajuku telah berbaur menebarkan paduan aroma baru yang
bercita rasa cinta dan sensasi sensual…….
Esok paginya,
>Sayang, aku rindu kamu. Tadi malam, indah sekali. Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi….
Tepat dua bulan sejak perkenalan kami. Dan kini aku dan dia berbaring bersisian dengan nafas
pendek-pendek. ….…… Aku terkesiap!!!
Esok siangnya,
>Kuharap, kamu tidak menyesal dengan yang baru kita lakukan semalam, Sayang, sungguh, indah sekali. Aku
mencintaimu.
Kurasakan dadaku berdebar lantaran SMS itu.
-------- 000 --------
Tiga bulan berjalan.
Aku sudah melangkah jauh, terlalu jauh. Tapi biarlah, aku sudah siap. Aku tak bisa melepaskan diri darinya. Toh, sebentar lagi dia akan menceraikan istrinya.
>Aku mencintaimu, Dik. Sangat. Aku ingin bersamamu. Tapi…..istriku pulang.
Tapi, senyum nakalku akan nasib selebriti yang terlibat “love affair” segera terhenti oleh SMS berikutnya….
>Sayang, sungguh aku mencintaimu. Percayalah. Kau benar-benar luar biasa. Maafkan aku….istriku HAMIL.
Kami akan punya anak…..
…!!!!!!...
>Sayang……maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat lain….
Aku termangu. Aneh, air mata setitik pun tak jatuh, tapi hatiku sesak dan…..gelap!!!
------- 000 --------
Di kepalaku terbayang sebuah ranjang tempat aku terbaring beberapa waktu lalu, dengan Mas Christo di sampingku, dengan mimpi indah yang jadi harapanku. Dan di ranjang yang sama, di rumah megah itu, kulihat berbaring, Mila, istrinya…..Hatiku bergolak melihatnya bersisian dengan wanita itu….
Lagi-lagi, tak kurasakan air mata di pipi. Cuma sesak dan….gulita!!!
Akan kucegah mereka dekat…dan aku satu-satunya yang boleh menyentuh Christoku…..
Dan sekarang aku tercekat oleh pemandangan di depanku. Di bibir ranjang itu, saat mereka
semakin dekaaatttt….
Harus! Harus kuhentikan sekarang juga!
Mas Christo, panggilku. Rupanya dia tidak mendengar.
“Mas Christo,” suaraku lebih keras. Masih juga dia tidak menoleh.
“MAS CHRISTO,” teriakku. Tidak mempan juga.
Kuhampiri dia, kutarik tangannya yang hendak menyentuh lengan Mila. Ugh, tak kena. Kudorong
dia menjauh…. Aku menebas angin.
Kudekatkan kepalaku di telinganya hendak mengecupnya mesra. Dia bergidik menjauh dan malah
semakin dekat dengan kepala Mila dan….mereka berciuman.
Aku panik sekali. Berteriak keras-keras dan tanganku berserabutan ke sana kemari menarik
perhatiannya. Tapi dia malah semakin mesra dengan Mila, membelai perut Mila yang menyimpan buah cinta mereka….., sementara aku bercumbu dengan angin.
Aku memalingkan muka dan kulihat aku tergeletak bernoda darah dan orang-orang menangisiku.
Aku bingung sekali.
Di mana aku?
Kukira semua akan berakhir. Kukira aku bisa menyentuh Christo selamanya walau dia hidup
bersama Mila. Kukira aku bisa memaksa Mila menjauh ketakutan Kukira….Kukira….
Ini bukan bumi, ini bukan surga, ini bukan neraka…..lalu di mana?
Aku berseliweran ke sana ke mari mencari semacam ……pintu… Ya, PINTU!…Tapi, ke mana?
Malah kulihat, kursi kerjaku di kantor, jabatanku, telah diisi orang lain. Lalu aku……
Kulihat orang menggali tanah merah di antara doa-doa dan tangisan, sambil memegang Kembar Mayang.
Demi Tuhan, aku……
Di mana jalanku pulang? Oh, maksudku, bukan pulang padaNya!!! Tapi, pulang ke BUMIKU!!!
TOLONG aku…… Heiiii!!!……Bagaimana ini?!?
Seorang wanita masa kini, telah berbuat bodoh terhadap nyawanya, gara-gara memburu jodoh?!?
Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com
0 komentar:
Poskan Komentar