Bila Anda penggemar CERPEN/FIKSI, selamat menikmati blog ini....

Bila yang Anda cari adalah KISAH:
fragmen dan penggalan kisah hidup--dari berbagai sumber,
sekedar agar kita tak lupa bersyukur
dan lebih mencintai hidup--
bahkan menemukan keindahannya, di balik duka, luka dan musibah sekalipun...

silakan klik DI SINI atau http://cerpen-kisah.blogspot.com

Kamis, 02 April 2009

cerpen-kisah remaja: Reality Show

Cerpen kisah remaja- REALITY SHOW
Maria Agatha

Berta menonton acara “Katakan Cinta” dengan penuh semangat. Di akhir acara, dia mendadak berdebar-debar, saat mencatat nomor telepon yang bisa dihubungi bila berminat untuk menjadi calon pejuang di acara reality show itu!
Oo! Berta semakin tegang membayangkan perjuangannya dan adegan romantisnya terpampang di sana, dengan Boni di depannya, lalu di layar terpampang tulisan “DITERIMA!!”
Oo! Indah sekali. Cool, Guys! Pikirnya.
“Gila, kamu, Ta. Apa nggak malu….gimana kalau ditolak?” sergah Mimi sahabatnya.
“Ih, kamu, nih, pesimis banget. Lagian, apa kamu ngeremehin aku? Apa kamu pikir aku cuma ge-er, kalau si Boni tuh, ada hati sama aku. Iya?!?” sergah Berta balik.
“Bukan gitu, Ta. Cuma…..masak sih, cewek yang nembak cowok.”
“Eh…. Hari gini jangan ngomong soal begituan, Non. Udah nggak jamannya. Lagian, kalau cara kita masih sopan dan kreatif, kenapa enggak? Malah bangga, dong,” kata Berta dengan nada ceramah.
“Tapi kalau ditolak gimana? Aku kan niat jaga perasaan kamu juga. Ditonton orang se-Indonesia, Non….”
“Ya, nggak apalah. Minimal udah sempat acting, kayak adegan romantis bintang sinetron…..hehehe….’” sahut si Berta dengan tawa .
“Ih, aku serius, nih, Ta. Apa kamu nggak malu kalau ditol…” belum selesai kalimat Mimi, Berta sudah memotong,” Kamu, nih emang cewek tradisionil. Pesimis dan kuper. Sudahlah, PD aja, lagi. Perasaanku bilang, si Boni tuh emang ada hati sama aku. Kamu sendiri kan sering dititipi salam ama dia buat aku. Iya kan? Kamu juga yang sering ngingatin aku kalau dia curi-curi pandang padaku? Ayolah, Mi, please…..support aku, dong.”
“Ya, deh. Terserah kamu, aja.” Mimi menyerah.
“Nah,gitu, dong. Lagipula, kalau aku ikutan acara itu, aku mau menunjukkan rasa solidaritasku ama kaum cowok, Mi.”
“Lho, apa hubungannya?”
“Kita bakalan tahu gimana susahnya para cowok saat berencana nembak cewek yang ditaksirnya, belum lagi dengan resiko ditolak. Nah, lho…. Niatku mulia kan,” kata Berta dengan centil.
Mimi Cuma angkat bahu. Percuma, deh, berdebat dengan mahluk Tuhan yang satu ini, pikirnya.
----- 000 -----
Dewi Fortuna berpihak pada Berta. Tak terlalu lama menunggu, kabar dari “Katakan Cinta” muncul.
Walaupun sudah bermodal percaya diri, tak urung, Berta sempat grogi juga, saat mengikuti arahan dari tim kreatif dan sutradara acara. Maklum, baru kali ini Berta berdiri di depan kamera.
Seperti ciri khas Reality Show itu yang penuh trik mengejutkan sang “target”, Boni saat itu memang tidak sadar sedang menjadi incaran sang pejuang Berta dan jadi sasaran bidikan kamera yang tersembunyi.
Tibalah klimaksnya….
Dengan dandanan ala Dewi Cinta nya negeri Yunani, di antara debur ombak dan keangkuhan batu karang tepi Pantai terucapkan puisi cinta Berta yang tertulis di kain putih penutup tubuh rampingnya…..
Boni terbelalak. Pertama, lantaran tubuh seksi Berta (hehe, jujur aja, memang iya begitu). Yang kedua karena….puisi cinta Berta.
Alih-alih menjawab, Boni malah tercebur ke air pantai lantaran shock!!!
“DITOLAK!!!!” tertampang hitam jelas di layar.
Mimi melongo. Tegang dan tidak sampai hati memandang wajah sahabatnya.
Sebenarnya Mimi tidak mau menonton penayangan kali itu. Tapi malahan Berta yang ngotot mau nonton.
“Aku pingin lihat, keren apa tidak acting-ku.” Kata Berta sambil tersenyum. Tak urung Mimi tahu, itu senyum yang kecut. Berta nya saja yang gengsi mengakui itu, setelah semangatnya yang menggebu beberapa waktu itu.
Keesokan harinya, Berta bagaikan bintang baru yang lagi naik daun. Jadi perhatian teman-temannya di sekolah. Ada yang salut sama keberaniannya. Tapi ada juga yang menertawakannya. Terutama para saingannya.
“Sadar, Non, sadar. Ngaca dulu dong sebelum ‘nyamber’ Boni,” celetuk Wina, mahluk sok cantik yang menyebalkan di kelasnya.
Untunglah, Berta cewek yang tahan banting. Satu dua hari memang terasa agak “panas” baginya. Tapi lama-lama cuek saja dia menanggapi segala komentar.
Satu yang tidak bisa dicuekinya. Tentu saja si Boni.
Rentang waktu antara ambil gambar acara “Katakan Cinta” dengan penayangannya memang agak lama. Dan Sejak adegan itu, sampai penayangannya, tepatnya, sejak penolakan Boni itu sampai hari ini, Boni jadi menjaga jarak dengan Berta.
Kasihan banget si Berta. Masak iya sampai segitunya amat ya reaksi si Boni?
“Aku nggak nyangka, deh, Mi, masak iya Boni jadi benci ama aku, gara-gara aku nembak dia?” tanya Berta pada sobat kentalnya itu.
“Yaahhh…. Aku kan udah ngingatin kamu, Ta.”
“Ngingatin apa?”
“Lha itu, kalau kamu ditolak…”
“Ini bukan soal ditolaknya, Mi. Aku nggak malu-malu banget tuh, saat ditolak. Udah resiko, tahu. Ya, kecewa, sih. Tapi lebih kecewa lagi, kok reaksi Boni segitu dinginnya. Malah sampai sekarang…..”
Mereka terdiam. Mimi jadi tidak tega untuk menyudutkan Berta. Bagaimana pun dia salut akan keberanian Berta, walau jadinya malah runyam.
“Eh, Mi. Nurut kamu, nih, jujur ya, Boni itu apa memang suka sama aku?”
Mimi tidak langsung menjawab. Mikir dulu. Bingung.
“Gimana, ya, Ta. Kemarin-kemarin, sih, aku yakin gitu. Tapi setelah kejadian di Show Reality itu, aku jadi bingung juga. Apalagi, abis kejadian itu, dia kan belum pernah ngomong apa-apa sama kamu atau aku. Aku ya jadi ragu juga…..”
“Iya, nih, masak aku yang ke-geer-an banget ya, Mi?”
“Ah, kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga ngerasa gitu, Ta. Beralasan banget. Dia suka memperhatikan kamu, titip salam, coba-coba ngedeketin kamu, kalau kamu deket cowok lain, kulihat dia blingsatan cemburu. Suer, deh, aku nggak bohong. Ngapain bohong ama sahabat sendiri, Ta….”
Dan dua sahabat itu termenung. Sama bingungnya.
“Nggak enak juga ya, Mi, jadi gini…..” sesal Berta.
----- 000 -----
Bukan Berta namanya, bila larut dalam penyesalan dan kesedihan. Masih banyak temannya. Cowok pun tak kurang di dekatnya. Maka, dilupakannya kejadian “sial” itu.
Setiap bertemu Boni, tetap coba disapanya. Bila dicuekin, dia pun ikutan cuek saja. Enteng sajalah…..sampai Mimilah yang bingung sendiri, kok ada mahluk “setabah” Berta ini. Kagum dia pada sobatnya.
Sampai suatu ketika…..
Boni menelponnya, mengajaknya bertemu di sebuah kafe.
“Berta, maafin aku, ya. Aku kok memperlakukan kamu seperti itu. Mestinya aku bersikap lebih sportif ya.”
“Aku memang kecewa….. kenapa kamu jadi seperti memusuhi aku. Tapi aku juga minta maaf, ‘kali aku terlalu ge-er. Tapi nggak apa-apa, kan daripada minder,” katanya.
Boni tersenyum. Rasa sesalnya makin besar telah bersikap seperti selama ini. Nyatanya, gadis itu seperti tak menyimpan dendam dan tetap gembira setelah penolakannya disambung sikap negatifnya. Ah, Berta memang gadis yang menarik dan menyenangkan. Sayangnya……
“Berta, sebenarnya, aku mengajakmu ke sini bukan hanya hendak minta maaf. Tapi juga hendak menyatakan rasa kagum ku pada keberanian dan kreativitasmu. Mungkin itulah perbedaan kita. Mungkin itulah yang menyebabkan semua sikapku itu.”
“Maksudmu?”
“Jujur saja, Ta. Aku sebenarnya minder sama kamu. Kamu cewek yang berani mengungkapkan perasaan kamu. Tidak seperti aku yang ragu-ragu dan tidak percaya diri. Itulah sebabnya, aku tidak bisa menerima cintamu, walaupun sebenarnya aku juga ada perasaan istimewa padamu.”
Tentu saja Berta terkejut. Setelah penolakan itu, setelah sikap Boni yang menjaga jarak, bagaimana mungkin kata-kata ini yang terucap?
“Aku tahu, kamu pasti telah aku buat bingung….. Berta, aku suka sama kamu. Mungkin perasaanmu telah berubah karena sikapku selama ini. Tapi, kuharap sekali lagi kamu mau memaafkan aku dan bisa mengerti alasanku…..”
Sejenak Boni mengambil nafas panjang, sebelumnya melanjutkan,
“Aku ini tidak mudah berekspresi di depan umum, makanya aku nggak bisa menerimamu waktu itu. Sejak itu, aku harus berjuang membuat diriku menjadi laki-laki yang lebih berani dan percaya diri. Aku malu, sungguh malu, dengan keberanianmu, Berta. Maka, senja ini, aku meyakinkan diriku, bahwa aku telah mampu untuk bersikap sama seperti kamu, berani, seperti kamu. Dan kini adalah giliranku untuk bertanya, maukah engkau menjadi kekasihku?”
Berta terperangah. Sebelum bisa berucap, dari panggung mungil di café itu muncul seorang penyanyi yang melantunkan “I Love You” nya Sophie, tembang lawas kesukaannya. Disusul puisi cinta………….Puisi yang sama, dengan yang dipakainya saat ia beraksi di “Katakan Cinta” beberapa waktu lalu!!!
Saat itulah mata Berta menangkap kamera yang tersembunyi di balik tumbuhan di café itu!
Jantung Berta berdebar. Jadilah dia tahu, bagaimana perasaan Boni yang agak pemalu ini pada saat Berta menembaknya dulu………
Saat mike disorongkan padanya…….
“Aku masih tetap cinta kamu, Boni.”
Legalah hati Boni. Begitu juga Berta. Tak ada dendam atau marah. Yang ada cuma saling mengerti…..dan cinta.
Maka, di layar kaca, terpampang “DITERIMA”.
Terbayang kan, bagaimana dua sejoli ini akan segera beken di seantero nusantara, sementara Wina, si kemayu akan gigit jari. Ha ha!!

Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar