cerpen ini pernah dimuat di majalah Chic (2005)
“BUYUNG”
Oleh: Maria Agatha
Kunti terpekur dalam diamnya. Matanya menatap kosong. Menerawang jauh menembus batas jendela berkaca buram. Senja menjelang. Belum gelap benar. Tapi ruangan tempatnya duduk telah bagai penuh kabut hitam. Sekali dua gagak berkaok-kaok melintas menjauh mendekat. Makin kencang berdiri bulu kuduknya.
Keringat dingin membecekkan telapak tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba saja matanya terasa semakin berkabut dan kepalanya berdenyut.
Ditariknya nafas panjang dan dalam berulang-ulang. Dibisikkannya ke hatinya sendiri, dikuatkannya niatnya sendiri, demi kebaikannya sendiri. Ah?!? “Ya Tuhan, tolonglah aku. Kuatkanlah aku”, bisiknya.
Tapi dia jadi malu dan---takut!
“Bagaimana mungkin aku minta perlindungan-Nya, untuk sesuatu yang jelas-jelas tak direstui-Nya? Sama saja seperti maling yang sedang beroperasi, lalu berdoa pada Tuhan agar dia tidak sampai ketahuan dan dihajar massa saat menjalankan niatnya. Lucu sekali, bukan?” nuraninya berbisik.
Dan dia sempat tersenyum sendiri memikirkannya. Senyum kecut, tentu saja.
“Nona Kunti.”
Dia tersentak kembali. Tapi dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu yang memisahkan ruang suram itu dengan sebuah ruang yang membuat hatinya miris.
Di bibir pintu langkahnya terhenti sesaat. Sempat terpikir olehnya untuk membalikkan badan dan melangkah pergi. Tapi….ah, sudah kepalang tanggung, katanya dalam hati. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Ditariknya nafas panjang lagi. Dalam dan lama. Dan dia melangkah kembali. Melewati pintu. Matanya disambut oleh tatapan seorang wanita yang telah berumur. Tajam. Dia langsung tertunduk. Ada rasa malu menyerangnya. Dan secara otomatis disentuhnya perutnya, bertepatan dengan saat pandangan wanita itu beralih ke tubuhnya.
“Tenang, ya. Jangan tegang. Tarik nafas yang dalam,” suara wanita itu sedikit serak. Terdengar dingin, tanpa perasaan. Kunti sempat berpikir, berapa puluh, atau ratus wanita yang telah disentuh perutnya oleh wanita ini?
Wanita itu mulai menyentuh permukaan perut Kunti, dan berhenti di pusarnya. Kembali jantung Kunti serasa berhenti berdetak, ototnya menegang, darahnya tak mengalir lagi, kepalanya berdenyut berat…..
Dipejamkannya matanya, dan tanpa sadar sepenuhnya bibirnya menghembuskan nama Tuhan….Tuhan…Tuhan…..Allah Akbar. Allah Akbar……
Mata Kunti menjadi basah. Nafasnya terengah---terlambat, pasti ini sudah terlambat. Ya Allah….
------- 000 --------
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja, ruang disekitarnya terasa lebih sempit dan pengap.
Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Dengingan pilu menyayat pendengarannya. Didekatkannya telinga untuk mencari tahu suara itu. Tapi malah tubuhnya bergetar, seakan ada yang menabuh genderang di dekatnya. Sesaat nafasnya seakan terhenti. Hingga bibirnya harus dibuka untuk mengundang udara ke rongga dadanya yang sangat kecil itu.
Hatinya menjadi resah. Tidak biasanya hawa terasa begini. Apakah musim sudah berganti. Tidak ada lagi belaian yang nikmat meninabobokannya ke tidur yang nikmat, diselingi kidung lembut merdu yang mengelus-elus telinga mungilnya.
Ah, ya, dia teringat sesuatu. Kenapa tidak bertanya kepada ibunya saja. Biasanya, sang bunda suka sekali memberi jawabannya atas pertanyaannya.
“ Bunda….,” Dipanggilnya nama sang bunda. Tidak ada reaksi.
Disentuhkannya tangannya. Tak ada balasan.
Dihentakkannya kaki kuat-kuat untuk menarik perhatian bundanya. Sepi saja. Malah rasa dingin makin kuat menyelinap.
Hatinya mulai terasa tidak enak. Tiba-tiba saja dia tersadar, dia telah terkurung sendirian di pojok yang gelap dan dingin. Sendirian, sungguh.
Mungkin bundanya sedang tertidur lelap kelelahan? Tapi selama ini lelelah apapun bundanya, ia tak pernah begitu tak peduli……
Rasa dingin semakin kuat menembus pori-pori tubuhnya. Apakah ada celah terbuka yang mengundang angin menerobos ke dalam?
Hei, lihat, ada cahaya kecil di kejauhan. Katanya pada diri sendiri.
Sebelum dia tahu cahaya apakah yang menyusup itu, lagi-lagi gelap membungkusnya, karena sesuatu menerobos dari celah asal cahaya itu tampak.
“Bunda, apakah itu?” pertanyaan meluncur dari bibirnya.
Bukannya jawaban yang didapat, malah sesuatu itu mendekati dan mulai menyentuhnya.
Dingin.
“ Aduh,” Benda itu mulai menyakitinya. “Bunda, apakah ini?”
Belum disadarinya apa yang terjadi, ada lagi sesuatu yang lain menekannya dari atas. Seperti dijepit diantara dinding. Sesak dadanya dan sulit bernafas.
“Bun…bun..ddd…dddaaa…. Aku kenapa?”
Tekanan di atasnya semakin keras. Kini melanda sekujur tubuhnya. Seperti dihantam.
Kakinya menyepak ke sana-kemari berusaha membebaskan diri. Tetapi benda asing dingin tadi malah membuatnya makin kesakitan….. dan Oh, bunda, kenapa tak bisa kugerakkan kaki kiriku?
Saat matanya melihat ke bawah….Oh, bunda, kakiku tinggal yang kanan. Kaki kirinya terlepas dan tercabik-cabik….
“Bunnndddaa…..”
Bundanya pasti tak mendengar. Rasa sakitnya makin menjadi-jadi. Pinggulnya kini yang terasa perih. Tak ada rasa lagi di tubuh bawahnya…..
Terus ke atas….
Pusarnya tak lagi berbentuk…..
Warna merah makin deras muncrat di mukanya. Matanya perih tak dapat melihat. Dia cuma bisa merasa, sabitan-sabitan yang makin dekat ke jantungnya.
Nafasnya mulai satu satu.
Kepalanya menjadi begitu berat dan matanya mulai enggan terbuka….
“Bunda….” Bibir mungilnya berbisik. Lemah. Pelan.
Tiba-tiba sesuatu yang kuat meraih dan menariknya…..
“Ah, apakah ini tangan Bunda yang menyelamatkanku dari rasa sakit ini?”
Yah! Cahaya terang. Udara! Udara!
“Tapi…Tapi, kenapa aku masih merasa sesak……?”
Segumpal warna merah menerpanya
Sebelum matanya tertutup oleh gumpalan itu, samar terlihat olehnya mata yang tajam di antara kulit yang berkerut-kerut…..
Di antara rasa takut dan sakit, dia panggil bunda sekali lagi.
“Bunda.” Sayang, terlalu lemah dia. Pasti Bundanya tak mendengar bisikannya itu. Bundanya pergi…atau tertidur lelap?
Karena selanjutnya…… dadanya pun terkoyak…dan berhentilah detak jantungnya.
Satu detik gerakan. Menggelepar.
Mata Kunti menangkap gerakan itu.
Selesai sudah….
-------- 000 -------
“ Ya, selesai sudah,” barulah wanita bermata tajam dengan kulit mulai berkerut itu buka suara.
Kunti merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi, ada yang paling sakit. Hatinya.
Rasa sesal menderanya.
Satu detik gerakan yang tertangkap matanya tadi……… apakah itu teguran kekecewaan Gusti Allah?
Rasa sakit luar biasa yang dirasanya tadi, seakan hilang begitu saja, terkalahkan oleh bayangan rasa sakit yang baru mendera makhluk mungil yang kini telah tercabik tak berbentuk dalam gumpalan merah tua.
“Bunda….”
Kunti menoleh ke sana kemari. Naluri itu terasa begitu saja. Dan matanya tertuju ke tempat gumpalan tadi diletakkan.
Hatinya berdesir. Miris dan….takut.
“Bunda….”
Kunti gemetar.
“Tidaakkk….tiddddaakkk…..”
“Nona Kunti, sudah selesai,” suara seorang wanita muda.
“Tttiiidddaakkkk…..”
--00000--
“Sudah selesai periksanya? Yuk, pulang,” sebuah suara dengan ringan menyapanya. Kris.
“Kau bisa istirahat di vilaku dulu, “katanya lagi. Kunti cuma termangu.
“Kamu kenapa, Kunti?” Kunti masih tidak menjawab.
“Kamu barusan pingsan. Nggak enak badan, ya? Kita pulang saja, istirahat di vilaku. Minggu depan kita mesti kembali ke sini dan……..bereslah semuanya. Kamu akan sehat kembali, dan……..tentu saja tak akan ada masalah lagi. Ini rahasia kita berdua,” kata Kris.
Kunti memejamkan matanya. Ya Allaaaahhh…… sebersit cahaya melintas, lalu……..
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja, ruang disekitarnya terasa lebih sempit dan pengap. Anehnya, bukan hawa panas yang dirasanya, melainkan celekitan dingin yang membuatnya merinding.
Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Dengingan pilu menyayat pendengarannya……….
Kunti cepat-cepat membuka matanya. Tubuhnya bergetar, keringat membasahi kening dan telapaknya.
“Kunti! Kunti!” Kris cemas.
Ampun Gusti, ampun Gusti….ampun…..Allah Akbar…. Batin Kunti menjerit. Hamba belum terlambat, bukan?
“Ayo, kita cepat pulang supaya kamu bisa istirahat. Penderitaan ini akan segera berakhir. Minggu depan. Atau kamu mau lebih cepat? Lusa? Atau besok? Atau sekarang? Mungkin semakin cepat semakin baik, agar kamu tidak seperti ini, sayang? Agar kamu tidak perlu bersembunyi lama-lama?” lagi-lagi suara Kris. Nada yang cemas, merayu, membujuk, jadi satu. Suara………..setan!
Kunti menatap tajam ke biji mata Kris.
Tiba-tiba, tangan Kunti ingin mencabik-cabik wajah yang baru berbicara itu. Begitu enak dia bicara begitu….. Dia, ayah sang mahluk mungil. Atau lebih tepatnya….laki-laki yang seharusnya MAU mengaku sebagai ayah si jabang bayi. Darah dagingnya.
Kepalanya dipenuhi bayangan wajah mungil yang menangis dan marah padanya. Telinganya dipenuhi suara jerit kesakitan dan panggilan “Bunda, bunda, bunda….”
Tubuh Kunti masih bergetar.
“Kita pulang, Kris, ke vilamu, sampai bayi kita lahir,” akhirnya suara Kunti keluar juga.
“Apa?” Kris nyaris melepaskan tubuh Kunti yang ada dalam bimbingannya. Shocked sekali dia.
“Iya, sayang. Kalau boleh, aku tinggal di vilamu untuk membesarkan anak kita, sampai kita menikah resmi bahkan orang tua kita menerima bayi kita. Kita tidak perlu sembunyi lagi. Aku siap, sayang,” kata Kunti masih dengan suara lemah, tapi yakin.
“Tapi…..tapi…..tidak mungkin Kunti. Kita belum siap. Kita tidak bisa melakukannya.”
“Aku siap, Kris. Kau pun akan siap, seandainya kamu sudah bertemu dengan si buyung kita ……” kata Kunti sambil melempar senyum.
“Aaa…appp..appp…apa, maksudmu? Kau baik-baik saja, kan , Kunti?”
“Kau percaya, sayang? Aku baru berkelana ke masa depan. Percayalah, kita akan lebih bahagia bila menantikan kelahiran si buyung kita. Dia pun sudah tak sabar untuk menghirup udara bumi ini. Dia membutuhkan kita. Ingin dicintai oleh kita.”
“Ah, kamu mengigau, Kunti. Kau baru pingsan. Sudahlah, kita segera pulang. Lusa kita kembali ke mari, agar segalanya cepat selesai, dan kita tak memiliki masalah lagi. Kita tetap bercinta, tanpa beban. Ok?”
Tubuh Kunti kembali menegang. Matanya membulat.
“Kkkaauu…..Kau, setan, Kris! Kejam. Kejaaammm!!!”
“Kunti!!!”
---oooo----
Gelap sesaat. Secercah cahaya membias.
Buyung menggeliatkan tubuhnya. Tubuhnya berbalik ke sana kemari. Gelisah.
Cuma sesaat. Selanjutnya, belaian lembut merasuk ke pori-porinya, dan suara sang bunda yang selalu dirindukannya terdengar.
“Jangan kuatir, sayang. Bunda akan menjagamu, dan menantikan lahirmu. Tidur yang nyenyak ya, malam ini…..”
Kunti membuka matanya. Allah Akbar.
“Kunti….” Wajah Mamanya tersenyum. Dia hendak bangun. Tapi selang-selang di sekitarnya menghalangi.
“Jangan bangun dulu. Tubuhmu masih lemah. Kamu baru pendarahan dan baru operasi, sayang.”
Kunti tercekat.
“Jangan kuatir. Bayimu selamat. Gagah seperti kakeknya.”
“Mama!”
“Sudahlah, sayang. Mau bagaimana lagi? Dia anakmu, cucu kami………darah daging kita semua………. Biarlah begini, asal engkau telah kembali pada kami.”
“Maafkan Kunti, Ma. Ampuni Kunti.”
“Ya, sudahlah, kau tak ingin melihat bayimu segera?”
Suster datang dan kulihat ukiran wajah Kris terpampang di sana . Aku tidak peduli. Si buyungku adalah milikku. Biarlah Kris berlalu, aku masih punya Mama Papa yang lebih mengerti aku, menerima bayiku---sesuatu yang tak terpikirkan olehku. Mereka yang tulus mencintaiku. Bukan Kris.
“Maafkan Bunda, sayang,” bisikku pada si Buyung yang menggeliat sambil menampakkan sedikit lidahnya. Lucu dan imut. Terlalu berharga untuk dicabik-cabik pisau aborsi.
Aku bergidik dan menangis. Allah Akbar.
TAMAT
Silakan mengutip atau terinspirasi oleh konten di sini, asalkan tulis link ke sumbernya http://cerpen-kisah2.blogspot.com
0 komentar:
Poskan Komentar