MINI STORY SERIES
Malam itu aku menemukannya. Ah, aku yakin
matanya tersenyum. Antara senyum nakal dan kebaikan. Ah, aku sok pintar benar
membuat analisa demikian. Tapi aku tahu, dia bermental petualang—perpaduan jiwa
liar namun berdekorasi kelembutan dan penuh pengertian.
Rasa percayaku menyerah mutlak dalam telikung
logika dan empatinya. Ah, indahnya bahkan melebihi rasa jatuh cinta—bah, bahkan
rasanya jatuh cinta saja aku tak yakin benar! Sungguh, bagi seonggok jiwa yang
selama ini memburu sepi dan sembunyi dalam sanctuary buatan, momen itu sungguh
sebuah sejarah yang akan tercatat dengan tinta emas (eh-ehm)…..
Sayang….sungguh, bila tinta emas itu mesti
ditumpuk dengan tinta merah…..
Aku termangu dalam sanctuaryku…..pena merah
menari-nari minta aku rengkuh.
Aku tetap menimbang-nimbang ragu,
Aku masih tetap berharap……..tinta emasku tak
luntur oleh waktu…..
Aku menunggu…
Si tinta merah melenggok menggoda..
Aku
membuang muka!
0 komentar:
Poskan Komentar