Mini Story Series
Sejak kecil sangat, aku sudah
dikenalkan samudera oleh Bundaku. Mungkin karena menurut astrologi, hidupku
tergantung pada air. Atau supaya aku menjalani hidupku, mengalir bak air—namun
tak terbawa arus karena telah terbiasa bercengkerama dengan gelombang…
Maka tak heran, pantai menjadi rumah
keduaku, my home sweet home…bahkan saat pantai hanyalah sebuah imajinasi. Dan
dalam situasi kritis, justru pantai adalah rumah pertamaku….sanctuary ku. Sakit
parah tak kunjung sembuh kualami saat kunjungan pertamaku ke pantai, namun,
jiwaku banyak kali terselamatkan oleh pantai pula. Ironis, memang. Tapi aku
lebih suka menganggapnya sebagai amazing.
Yah, amazing…
Seiring aku bertumbuh, kata amazing itu adalah pilihan yang terbaik.
Ya, amazing. Pantai mengajariku ironi. Ironi
memang warna kehidupan. Pantai mengajariku tentang kehidupan.
Di Pantai…Aku bergembira, tapi lalu jatuh sakit tak
sembuh-sembuh juga
Karena pantai…Aku menanggung perih dan malu
berkepanjangan, tapi perlahan pantai juga jalan kesembuhannya
Di Pantai….Aku menikmati kemerdekaan, hingga terbelit
rindu menyesakkan nafas
Karena Pantai….Aku menggelepar dahaga, namun terhiburkan
kesejukan—
Sejuk yang dingin segar namun asin perih di tenggorokan
bila berlebihan,
ah, lagi-lagi ironi yang disandangnya…
Di Pantai….Aku belajar terbang melintas samudera, lalu
terjatuh karena sayapku masih terlalu lemah…
Karena Pantai….Aku “menikmati” luka dan kecewa, hingga
duka dan putus asa berevolusi menjadi ribuan harapan seperti ladang pasirnya yang basah gemerlapan
Di Pantai….Aku bertemu kamu…
Di
salah satu sudut home-sweet-home ku
….
Sudut yang gelap tiba-tiba menjadi tujuan pertama
terbitnya surya
Sudut yang pengap tiba-tiba
berlimpah O2
Sudut yang mengubur segumpal
asa tiba-tiba mulai berdetak, bernafas, dan bergerak….
LALU…
Samar meredup
Mengetat sesak
Tersendat langkah..
Ironis…
LALU….
Pantai adalah kehidupanku.
Kehidupan adalah ironi yang sempurna. Maka, aku menunggu, mengalir…seperti
hakikat pantaiku, airku, namaku. Mengalir…..ironi apa yang menunggu dalam kehidupanku…
Bila mengikut hakikat pantaiku…
Harusnya
Karena Pantai…..
Redup itu menjadi pendar merah
surya di Barat yang menuntun pada kejelasan makna, bahwa malam gelap akan diganti pagi
cerah
Sesak itu berkontribusi CO2
bagi fotosintesa daun kelapa, menghembuskan kasih persaudaraan sebagai
imbalannya
Sendat itu sekedar tali
kekang penyelamat, agar aku tak tersandung jatuh bongkahan karang atau ceceran
buah kelapa coklat…..sehingga aku kembali berjalan dengan tenang, melintasi pasir
hangat , dicumbu sejuk percikan ombak, yang menghibur hatiku dalam senyum tak
sadar. Senyum paling jujur dari hati yang terdalam—digerakkan bawah sadar,
membias lewat cahaya surya, terpantul oleh air lautan…..untuk memanggilmu
datang…..