Bila Anda penggemar CERPEN/FIKSI, selamat menikmati blog ini....

Bila yang Anda cari adalah KISAH:
fragmen dan penggalan kisah hidup--dari berbagai sumber,
sekedar agar kita tak lupa bersyukur
dan lebih mencintai hidup--
bahkan menemukan keindahannya, di balik duka, luka dan musibah sekalipun...

silakan klik DI SINI atau http://cerpen-kisah.blogspot.com

Senin, 27 Februari 2012

PANTAI (part 1)


Mini Story Series

Sejak kecil sangat, aku sudah dikenalkan samudera oleh Bundaku. Mungkin karena menurut astrologi, hidupku tergantung pada air. Atau supaya aku menjalani hidupku, mengalir bak air—namun tak terbawa arus karena telah terbiasa bercengkerama dengan gelombang…

Maka tak heran, pantai menjadi rumah keduaku, my home sweet home…bahkan saat pantai hanyalah sebuah imajinasi. Dan dalam situasi kritis, justru pantai adalah rumah pertamaku….sanctuary ku. Sakit parah tak kunjung sembuh kualami saat kunjungan pertamaku ke pantai, namun, jiwaku banyak kali terselamatkan oleh pantai pula. Ironis, memang. Tapi aku lebih suka menganggapnya sebagai amazing.

Yah, amazing…

Seiring aku bertumbuh, kata amazing itu adalah pilihan yang terbaik. Ya, amazing. Pantai mengajariku ironi. Ironi  memang warna kehidupan. Pantai mengajariku tentang kehidupan.

Di Pantai…Aku bergembira, tapi lalu jatuh sakit tak sembuh-sembuh juga
Karena pantai…Aku menanggung perih dan malu berkepanjangan, tapi perlahan pantai juga jalan kesembuhannya

Di Pantai….Aku menikmati kemerdekaan, hingga terbelit rindu menyesakkan nafas
Karena Pantai….Aku menggelepar dahaga, namun terhiburkan kesejukan—
Sejuk yang dingin segar namun asin perih di tenggorokan bila berlebihan,
ah, lagi-lagi ironi yang disandangnya…

Di Pantai….Aku belajar terbang melintas samudera, lalu terjatuh karena sayapku masih terlalu lemah…
Karena Pantai….Aku “menikmati” luka dan kecewa, hingga duka dan putus asa berevolusi menjadi ribuan harapan seperti  ladang pasirnya yang basah gemerlapan

Di Pantai….Aku bertemu kamu…
Di salah satu sudut home-sweet-home ku ….

Sudut yang gelap tiba-tiba menjadi tujuan pertama terbitnya surya
Sudut yang pengap tiba-tiba berlimpah O2
Sudut yang mengubur segumpal asa tiba-tiba mulai berdetak, bernafas, dan bergerak….
LALU…
Samar meredup
Mengetat sesak
Tersendat langkah..
Ironis…
LALU….

Pantai adalah kehidupanku. Kehidupan adalah ironi yang sempurna. Maka, aku menunggu, mengalir…seperti hakikat pantaiku, airku, namaku. Mengalir…..ironi apa yang menunggu dalam kehidupanku…

Bila mengikut hakikat pantaiku…
Harusnya
Karena Pantai…..
Redup itu menjadi pendar merah surya di Barat yang menuntun pada kejelasan makna, bahwa malam gelap akan diganti pagi cerah
Sesak itu berkontribusi CO2 bagi fotosintesa daun kelapa, menghembuskan kasih persaudaraan sebagai imbalannya

Sendat itu sekedar tali kekang penyelamat, agar aku tak tersandung jatuh bongkahan karang atau ceceran buah kelapa coklat…..sehingga aku kembali berjalan dengan tenang, melintasi pasir hangat , dicumbu sejuk percikan ombak, yang menghibur hatiku dalam senyum tak sadar. Senyum paling jujur dari hati yang terdalam—digerakkan bawah sadar, membias lewat cahaya surya, terpantul oleh air lautan…..untuk memanggilmu datang…..

Selasa, 21 Februari 2012

Cerpen Kisah- Tinta Emas dan Merah


MINI STORY SERIES

Malam itu aku menemukannya. Ah, aku yakin matanya tersenyum. Antara senyum nakal dan kebaikan. Ah, aku sok pintar benar membuat analisa demikian. Tapi aku tahu, dia bermental petualang—perpaduan jiwa liar namun berdekorasi kelembutan dan penuh pengertian.
Rasa percayaku menyerah mutlak dalam telikung logika dan empatinya. Ah, indahnya bahkan melebihi rasa jatuh cinta—bah, bahkan rasanya jatuh cinta saja aku tak yakin benar! Sungguh, bagi seonggok jiwa yang selama ini memburu sepi dan sembunyi dalam sanctuary buatan, momen itu sungguh sebuah sejarah yang akan tercatat dengan tinta emas (eh-ehm)…..
Sayang….sungguh, bila tinta emas itu mesti ditumpuk dengan tinta merah…..
Aku termangu dalam sanctuaryku…..pena merah menari-nari minta aku rengkuh.
Aku tetap menimbang-nimbang ragu,
Aku masih tetap berharap……..tinta emasku tak luntur oleh waktu…..
Aku menunggu…
Si tinta merah melenggok menggoda..
Aku membuang muka!